Puang-ku

Selamat, selamat, selamat,
untuk hari yang kembali memilihmu.

Hari dimana dunia seakan menahan napasnya sebentar,
cukup untuk memberi ruang pada satu kata sederhana:
selamat.

Selamat,
atas hidup yang masih kau jalani,
atas waktu yang tidak pernah menoleh,
namun tetap membawamu sampai di sini.

11.59, dalam detik yang hampir jatuh itu,
ada doa yang kubisikkan di kamar bercat putih itu.

Tak ada yang istimewa,
selain harap yang diam-diam keras kepala berkumandang.

Selamat,
karena kau tidak sendiri,
meski sepi sering pandai menyamar jadi ramai,
seperti seekor merpati yang hafal jalan pulangnya,
sehingga lupa cara tersesat.

Selamat,
karena kau masih berdiri,
meski hidup lebih sering menguji daripada menjelaskan.

Selamat lagi,
untuk dirimu yang masih belajar memahami diri sendiri,
yang kadang jatuh, mencaci, dan memaki hidup.

Dan di antara semua itu,
ada syukur yang pelan-pelan tumbuh:
untuk hidup,
untuk waktu,
untuk Ibu dan Ayah,
yang namanya selalu lebih dulu dipanggil oleh hati,
bahkan disaat kepalamu runtuh.

Jaga senyummu itu,
satu-satunya hal yang tidak pernah berpura-pura,
dan belum belajar untuk berbohong.

Esok akan datang,
bukan sekadar untuk ditunggu, tetapi untuk dijalani,
dan, jika bisa, dirayakan.

Dan aku,
di antara semua kata yang terasa menjijikkan ini,
akhirnya mengerti satu hal sederhana:
mengingat adalah cara untuk bersyukur,
pada bulan Maret,
kepada harimu.

Selamat ulang tahun.
Untukmu,
untuk hidupmu,
dan untuk semua yang masih akan datang.

Sungguh, aku bahagia untukmu.


20 Maret 2026

Comments